Tampilkan postingan dengan label Publikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Publikasi. Tampilkan semua postingan

05 Mei 2014

Posted by Lorong Teater Subang On 10:55


Peserta Lorong Teater dari Kabupaten Subang membawakan teater berjudul "Di Hiji Tempat Nu Biasa" naskah karya Nunu Nazarudin dalam Festival Drama Basa Sunda (FDBS) XIII di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jalan Baranangsiang, Kota Bandung, Senin (14/4). Festival yang diselenggarakan oleh Teater Sunda Kiwari tersebut, diikuti 61 kelompok teater dari kota dan kabupaten se-Jawa Barat dari Banten dan DKI Jakarta yang akan berlangsung hingga 3 Mei 2014. TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN

Sumber: http://www.tribunnews.com/images/editorial/view/1119352/festival-drama-basa-sunda#.U2cLSfmSxmw
Posted by Lorong Teater Subang On 10:48
April 29, 2014


Lorong Teater Kabupaten Subang kembali mempersembahkan pertunjukan memukau melalui drama berjudul “Hak Peto” pada Festival Drama Basa Sunda (FDBS) XIII yang digelar di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Bandung 25 April 2014 yang lalu. Ini adalah drama kedua yang diikutsertakan Lorong teater dalam FDBS tahun ini, setelah sebelumnya Lorong teater juga mengikutsertakan drama berjudul “Di Hiji Tempat Anu Biasa” yang dipentaskan beberapa waktu sebelumnya.
Pada pementasan kemarin, para aktor Lorong teater berhasil “menghidupkan” naskah drama “Hak Peto” karya Bode Riswandi. Tokoh Ucup Maulana Gorbacep yang menjadi salah satu tokoh sentral dalam drama kali ini diperankan apik oleh aktor Lorong teater. Ungkapan-ungkapan dan tindakan tokoh Ucup, seorang gila yang “cerdas” merupakan satire bagi pribadi maupun masyarakat pada umumnya.



Drama berdurasi sekitar 1 jam 20 menit ini menceritakan sebuah kelompok teater yang dramanya terancam gagal karena harus menyelesaikan dahulu “drama” yang lain yaitu dilarang bermainnya salah satu aktornya oleh istrinya. Drama di dalam drama ini menjadi satire bagi siapapun yang menyaksikannya melalui peran para aktornya.
Lorong teater Kabupaten Subang merupakan juara bertahan pada event FDBS yang merupakan festival drama paling bergengsi di Jawa Barat saat ini. Teater ini berdiri sejak 14 Februari 1992 di SMA Negeri 1 Subang.



Posted by Lorong Teater Subang On 10:17

April 14, 2014


Pembukaan Acara Festival Drama Basa Sunda XIII di Bandung
Pembukaan Acara Festival Drama Basa Sunda XIII di Bandung
Festival Drama Basa Sunda (FDBS) XIII resmi dibuka di gedung kesenian Rumentang Siang, Bandung, Senin 14 April 2014. Acara yang diselenggerakan oleh Teater Sunda Kiwari ini akan digelar hingga 3 Mei mendatang dengan diikuti sebanyak 61 kelompok teater yang berasal dari berbagai kota/kabupaten di Jawa Barat dan satu kelompok teater dari Kalimantan Timur.
Acara pembukaan di awali dengan penyerahan piala bergilir dari teater Lorong, Kabupaten Subang  sebagai juara festival sebelumnya kepada panitia penyelenggara. Selanjutnya ketua panitia, wakil ketua DPRD Jawa Barat, Kadis Pariwisata Kota Bandung dan Kadis Pariwisata Jawa Barat  bergantian memberi sambutan.
Kadisbudpar Propinsi JAwa BArat Membuka acara Festival Drama Basa Sunda XIII di Bandung, 14 April 2014
Kadisbudpar Propinsi Jawa Barat Membuka acara Festival Drama Basa Sunda XIII di Bandung, 14 April 2014
Dalam sambutannya sebagai ketua penyelenggara R. Dadi P. Danusubrata menyatakan, ke depan festival ini akan lebih dikembangkan dengan merangkul daerah kota/kabupaten di Jawa Barat yang tidak berbahasa sunda seperti wilayah sekitar Cirebon yang berbahasa jawa dan sekitar Bekasi yang berbahasa betawi. Sementara itu Kadis Pariwisata kota Bandung dan Kadis Pariwisata Jawa Barat menyatakan dukungannya dengan digelarnya acara tersebut.
Sebagai juara festival sebelumnya, teater Lorong kabupaten Subang mendapat giliran tampil pertama hari ini. Kali ini teater Lorong membawakan kisah dengan judul ”Di Hiji Tempat Nu Biasa” karya Nazaruddin Azhar. Sebagai penampil pertama, Teater Lorong berhasil mempersembahkan pertunjukkan yang memukau.
teater lorong subang FDBS
Teater Lorong Subang Jadi pembuka Gelaran Festival Drama Basa Sunda XIII di gedung Rumentangsiang, Bandung (14/04/2013)

28 Mei 2012

Posted by Lorong Teater Subang On 16:17

Oleh: Annas Nashrullah


"cinta sejati adalah mengiklaskan seseorang yang dicintai untuk mencintai seseorang yang dicintainya, meskipun orang itu bukan diri kita"...

Selepas kepergian Jaka selama sepuluh tahun. Arin, kekasih Jaka akhirnya menikah dengan Suhadi. Sebuah penantian yang tak berujung menghantui kekalutan Arin. Atas kehendak waktu Arin dan Jaka bertemu dalam kondisi saling memendam rasa yang sama. Tekanan batin yang kian meletup membuat Jaka membawa Arin ke sebuah tempat yang bernama Pajaratan Cinta.

“Naha urang kudu kikieuan sagala, Jaka? Naha taya jalan sejen keur nuntaskeunana?” Arin mengguncang, Jaka pasrah.


Percintaan mereka terbias dari kisah cinta Sang pembuat pajaratan, Nyai Pohaci Rababu. Dalam semilir angin yang mengalun Pohaci Rababu hadir kembali menyeruak bongkahan cerita. Sangkuriang dan Dayangsumbi berdiri disusut tatapan dan pemikiran Jaka. Di Pajaratan Cinta orang unjuk irama hati yang berbeda. Dan Jaka pun bertemu dengan cinta sejatinya. 

Demikian yang terekam dalam pagelaran drama Basa Sunda dengan tema "Pajaratan Cinta" Lorong Teater, akhir pekan kemarin. Dengan penyuguhan yang apik, dan pembawaan karakter pemainnya yang kuat membuat ratusan penonton yang datang, terhipnotis.

"Ini yang menjadi ciri khas dan kelebihan Lorong teater dengan lainnya, mereka kuat dalam memainkan karakter. Inilah yang menjadi kunci mereka berprestasi," kata pemerhati teater Bandung, Eki Rizki kepada TINTAHIJAU.com usai pementasan Lorong Teater di Wisma Karya baru-baru ini.

Sejak berdirinya pada 14 Februari 1992 hingga saat ini, dalam setiap pementasan Teater Lorong yang (semula) beranggotakan siswa SMAN 1 Subang itu mayoritas mengangkat tema Cinta. Begitu lekatnya dengan tema itu, Lorong Teater menemukan makna dan karakter cinta dalam persefsinya.

Cinta, memberikan rasa tanpa berharap mendapat jasa. Karena cinta balas jasa, akan berujung pada satu titik bernama duka. Wajar, jika cinta di mata mereka difahami sebagai sesuatu universal, sehingga dengan sendirinya cinta menunjukan wajah dan bentuk sendiri. 

"Ternyata cinta itu punya wajahn dan bentuknya sendiri. Cinta sejati itu mengiklaskan seseorang yang dicintai untuk mendapatkan kebahagiaan, meskipun orang itu bukan diri kita," kata pelatih  Lorong teater, Atep YS. 

Dengan tema cinta itu pula, mengantarkan Lorong Teater ke tangga prestasi di level Jabar. Teater yang bermarkas di kampus SMAN 1 Subang itu sukses menggondol penghargaan tertinggi selama 4 kali pada Festival Drama Basa Sunda (FDBS) yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Bandung.

Prestasi pertama, ditoreh lorong pada FDBS ke V tahun 1998. Prestasi itu melecut semangat anak-anak Lorong. Tak tanggung-tanggung, Lorong menggondol penghargaan festival 2 tahunan itu, pada tahun 2000, 2004, 2006 dan terakhir tahun 2012 ini.

"Pertama kali kita mengikuti FDBS tahun 1996. Dan saat pertama partisifasi, kita gagal. Kegagalan itu yang membuat kita termotivasi untuk lebih baik, dan alhamdulillah sampai saat ini sudah 4 penghargaan yang kita bawa ke Subang," imbuh pria yang juga pembimbing Lorong Teater itu.

Pretasi yang diraih anak-anak Lorong, mengantarkan nama Lorong Teater naik daun. Beberapa kali, Lorong tampil di sejumlah event atas permintaan pelaksana. Sebut saja, acara bergengsi JakART pada 2002. Pada event itu, Lorong dikontrak untuk manggung di tiga tempat sekaligus.

Untuk sampai pada puncak prestasi, tidak didapat dengan gratis. Teater yang resmi terbentuk 1992 itu, pada tahun ke-3 dan ke-4 pendirinnya dihantam "badai". Pihak sekolah sempat "membredel" kegiatan mereka. Seperti jiwa tanpa ruh, Lorong hanya sebuah nama tanpa aktivitas nyata.

Dua tahun vakum, bukan menjadi alasan group teater ini bubar. Sebaliknya, dengan anggota yang ada, mereka kembali menyatukan stamina dan asa yang tersisa. Memasuki tahun 1994 mereka membuktikan, jika Lorong masih ada. 

"Sejak tahun itu kita mulai latihan dan kegiatan rutin. Tahun 1996 kita ikut FDBS, tapi gagal. Kegagalan itu yang membuat kita semangat lagi. Dan pada 1999 kita membuat AD ART untuk menentukan arah kita," terangnya.

Setelah beberapa tahun berada pada fase “hening”, akhirnya organisasi teater ini memulai kegaduhannya. Kegaduhan berkegiatan yang selalu dibalut keheningan berpikir para pelakunya.

Ini dibuktikan dengan pementasan drama berbahasa sunda di Gedung Sejarah Wisma Karya, Subang pada Kamis-Jumat (17-18/5) kemarin. Selain untuk menunjukan eksistensinya, pagelaran Lorong Teater itu sebagai ungkapan syukur atas perstasi yang diperoleh dalam kurun 10 tahun ini.

Ya, prestasi dan terperosok, seperti itulah jejak teater Lorong sejak pendiriannya hingga saat ini. Seperti hal namanya, setiap masalah yang membelitnya, para aktor itu mengendapkan pikirannya pada sebuah lorong sekolah yang menjadi rahim kelahirannya.

sumber : http://www.tintahijau.com/komunikita/35-komunitas/2323-menelusuri-lorong-teater-sman-1-subang.html