19 Juni 2012
28 Mei 2012
Posted by Lorong Teater Subang
On 16:17
Oleh: Annas Nashrullah
"cinta sejati adalah mengiklaskan seseorang yang dicintai untuk mencintai seseorang yang dicintainya, meskipun orang itu bukan diri kita"...
Selepas kepergian Jaka selama sepuluh tahun. Arin, kekasih Jaka akhirnya menikah dengan Suhadi. Sebuah penantian yang tak berujung menghantui kekalutan Arin. Atas kehendak waktu Arin dan Jaka bertemu dalam kondisi saling memendam rasa yang sama. Tekanan batin yang kian meletup membuat Jaka membawa Arin ke sebuah tempat yang bernama Pajaratan Cinta.
“Naha urang kudu kikieuan sagala, Jaka? Naha taya jalan sejen keur nuntaskeunana?” Arin mengguncang, Jaka pasrah.
“Naha urang kudu kikieuan sagala, Jaka? Naha taya jalan sejen keur nuntaskeunana?” Arin mengguncang, Jaka pasrah.
Percintaan mereka terbias dari kisah cinta Sang pembuat pajaratan, Nyai Pohaci Rababu. Dalam semilir angin yang mengalun Pohaci Rababu hadir kembali menyeruak bongkahan cerita. Sangkuriang dan Dayangsumbi berdiri disusut tatapan dan pemikiran Jaka. Di Pajaratan Cinta orang unjuk irama hati yang berbeda. Dan Jaka pun bertemu dengan cinta sejatinya.
Demikian yang terekam dalam pagelaran drama Basa Sunda dengan tema "Pajaratan Cinta" Lorong Teater, akhir pekan kemarin. Dengan penyuguhan yang apik, dan pembawaan karakter pemainnya yang kuat membuat ratusan penonton yang datang, terhipnotis.
"Ini yang menjadi ciri khas dan kelebihan Lorong teater dengan lainnya, mereka kuat dalam memainkan karakter. Inilah yang menjadi kunci mereka berprestasi," kata pemerhati teater Bandung, Eki Rizki kepada TINTAHIJAU.com usai pementasan Lorong Teater di Wisma Karya baru-baru ini.
Sejak berdirinya pada 14 Februari 1992 hingga saat ini, dalam setiap pementasan Teater Lorong yang (semula) beranggotakan siswa SMAN 1 Subang itu mayoritas mengangkat tema Cinta. Begitu lekatnya dengan tema itu, Lorong Teater menemukan makna dan karakter cinta dalam persefsinya.
Cinta, memberikan rasa tanpa berharap mendapat jasa. Karena cinta balas jasa, akan berujung pada satu titik bernama duka. Wajar, jika cinta di mata mereka difahami sebagai sesuatu universal, sehingga dengan sendirinya cinta menunjukan wajah dan bentuk sendiri.
"Ternyata cinta itu punya wajahn dan bentuknya sendiri. Cinta sejati itu mengiklaskan seseorang yang dicintai untuk mendapatkan kebahagiaan, meskipun orang itu bukan diri kita," kata pelatih Lorong teater, Atep YS.
Dengan tema cinta itu pula, mengantarkan Lorong Teater ke tangga prestasi di level Jabar. Teater yang bermarkas di kampus SMAN 1 Subang itu sukses menggondol penghargaan tertinggi selama 4 kali pada Festival Drama Basa Sunda (FDBS) yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Bandung.
Prestasi pertama, ditoreh lorong pada FDBS ke V tahun 1998. Prestasi itu melecut semangat anak-anak Lorong. Tak tanggung-tanggung, Lorong menggondol penghargaan festival 2 tahunan itu, pada tahun 2000, 2004, 2006 dan terakhir tahun 2012 ini.
"Pertama kali kita mengikuti FDBS tahun 1996. Dan saat pertama partisifasi, kita gagal. Kegagalan itu yang membuat kita termotivasi untuk lebih baik, dan alhamdulillah sampai saat ini sudah 4 penghargaan yang kita bawa ke Subang," imbuh pria yang juga pembimbing Lorong Teater itu.
Pretasi yang diraih anak-anak Lorong, mengantarkan nama Lorong Teater naik daun. Beberapa kali, Lorong tampil di sejumlah event atas permintaan pelaksana. Sebut saja, acara bergengsi JakART pada 2002. Pada event itu, Lorong dikontrak untuk manggung di tiga tempat sekaligus.
Untuk sampai pada puncak prestasi, tidak didapat dengan gratis. Teater yang resmi terbentuk 1992 itu, pada tahun ke-3 dan ke-4 pendirinnya dihantam "badai". Pihak sekolah sempat "membredel" kegiatan mereka. Seperti jiwa tanpa ruh, Lorong hanya sebuah nama tanpa aktivitas nyata.
Dua tahun vakum, bukan menjadi alasan group teater ini bubar. Sebaliknya, dengan anggota yang ada, mereka kembali menyatukan stamina dan asa yang tersisa. Memasuki tahun 1994 mereka membuktikan, jika Lorong masih ada.
"Sejak tahun itu kita mulai latihan dan kegiatan rutin. Tahun 1996 kita ikut FDBS, tapi gagal. Kegagalan itu yang membuat kita semangat lagi. Dan pada 1999 kita membuat AD ART untuk menentukan arah kita," terangnya.
Setelah beberapa tahun berada pada fase “hening”, akhirnya organisasi teater ini memulai kegaduhannya. Kegaduhan berkegiatan yang selalu dibalut keheningan berpikir para pelakunya.
Ini dibuktikan dengan pementasan drama berbahasa sunda di Gedung Sejarah Wisma Karya, Subang pada Kamis-Jumat (17-18/5) kemarin. Selain untuk menunjukan eksistensinya, pagelaran Lorong Teater itu sebagai ungkapan syukur atas perstasi yang diperoleh dalam kurun 10 tahun ini.
Ya, prestasi dan terperosok, seperti itulah jejak teater Lorong sejak pendiriannya hingga saat ini. Seperti hal namanya, setiap masalah yang membelitnya, para aktor itu mengendapkan pikirannya pada sebuah lorong sekolah yang menjadi rahim kelahirannya.
Categories: Publikasi
25 Mei 2012
Posted by Lorong Teater Subang
On 20:19
TIM KREATIF :
PENATA ARTISTIK : Ayi Syahrul Hamzah
Crew :
1.Sandy Hallymansyah
2.George Ilham H.
3.Reza Pebrianto
4.Fauzan D’Angga
5.Lusan Maulana S.
6.AM. Rabbani
7.Nadira Adintianti
8.Riska Rosmala D.
9.Puspita
10.Nenden Yuneu
11.Yehezkiel
12.Syachlul
13.M. Hamzhya S.
14.Riska M.
15.Rida
16.Rhessa
PENATA MUSIK : Hadi Faturokhman
Crew :
1.Siska Amelie F.D.
2.Ligar Widyautami
3.Hadi Wibowo
PENATA LIGHTING :Heri
Crew :
1.Enra.Aria..
2.Yuniawati
3.Syahdan
MAKE UP : Ayu Sri Rahayu
Crew :
1.Sri Wulan
2.Lia Marliana
PIMPINAN PENTAS
Sandi Hallymansyah
SUTRADARA
Atep YS
Categories: Dokumentasi
24 Mei 2012
Posted by Lorong Teater Subang
On 15:07
Wisma Karya Subang 17-18 Mei 2012
bongkahan cerita. Sangkuriang dan Dayangsumbi berdiri disusut tatapan dan pemikiran Jaka. Di Pajaratan Cinta orang unjuk irama hati yang berbeda. Dan Jaka pun bertemu dengan cinta sejatinya, siapakah dia?
Selepas kepergian Jaka selama sepuluh tahun. Arin, kekasih Jaka akhirnya menikah dengan Suhadi. Sebuah penantian yang tak berujung menghantui kekalutan Arin. Atas kehendak waktu Arin dan Jaka bertemu dalam kondisi saling memendam rasa yang sama. Tekanan batin yang kian meletup membuat Jaka membawa Arin ke sebuah tempat yang bernama Pajaratan Cinta.
“Naha urang kudu kikieuan sagala, Jaka? Naha taya jalan sejen keur nuntaskeunana?” Arin mengguncang, Jaka pasrah.
Tempat seperti apa Pajaratan Cinta? Ada maksud apa Jaka membawa Arin kesana? Saat inilah cinta hakiki diuji. Percintaan mereka terbias dari kisah cinta Sang pembuat pajaratan, Nyai Pohaci Rababu. Dalam semilir angin yang mengalun Pohaci Rababu hadir kembali menyeruak
bongkahan cerita. Sangkuriang dan Dayangsumbi berdiri disusut tatapan dan pemikiran Jaka. Di Pajaratan Cinta orang unjuk irama hati yang berbeda. Dan Jaka pun bertemu dengan cinta sejatinya, siapakah dia?
Para Pemain (dari kiri ke kanan):
- Franx I. H. (Sangkuriang)
- Enra..Aria. (Agni)
- Heri Martadiharja (Suhadi)
- Eko Darmoko (Jaka)
- Hilmi A. (Roni)
- Asmi Putri (Noni)
- Anita Ratna J. (Dayangsumbi)
- Nurul.Febrian.. (Arin)
- Sri Wulan (Pohaci Rababu)
Adegan dalam Drama Pajaratan Cinta
Categories: Dokumentasi
Posted by Lorong Teater Subang
On 10:49
Perjalanan Lorong alangkah panjangnya. Begitu sulit dan melelahkan. Namun semua itu pelak kami jalani juga, karena perjalanan ini pilihan kami. Ada tekad belajar yang kuat, menemani menyelusurinya.
![]() |
| (PJC : Wisma Karya Subang & Rumentang Siang Bandung) |
Mempelajari teater, mengenal hal-hal lain pada kami. Dengan kata lain, mempelajari teater di Lorong berarti juga mempelajari hidup dan kehidupan yang didalamnya terdapat manusia.
Semua yang kami dapat dalam berteater merupakan bekal yang sangat berarti bagi kami. Setiap proses yang kami jalani adalah miniatur runtutan kenyataan yang memang akan terjadi dalam kehidupan kami, baik dalam kegiatan kami berteater atau saat berhadapan dengan masyarakat.
Lorong bagi kami hanya sebuah sebutan, tempat kami belajar membaca sasmita (tanda-tanda kekuasaan-Nya). Yang selalu harus kami sadari adalah tetap waspada menghadapi kenyataan-kenyataan yang membawa lorong menjadi seperti ini. Menjadi Juara Umum Festival Drama Basa Sunda yang kali ke empat merupakan cobaan yang cukup berarti karena tugas kami akan semakin berat mempertaruhkan keringat dan air mata kami, apakah terpelihara atau akan terbuang bersama kesombongan.
Dari hati semoga diterima di hati
Categories: Essay
Langganan:
Postingan (Atom)























