
Masih ingatkah dengan postingan proses di Wisma?
Malam itu, ketika aku menemaninya naik mobil pick up
dibelakang. Dia terlihat berbeda, menjadi pendiam, matanya memancarkan sebuah kesedihan.
Sangat berbeda seperti biasanya. Aku sebagai temannya, penasaran. Sebenarnya
apa yang terjadi dengannya. “Aku dimarahin orang tua aku. Nanti aja ceritanya.
Aku gamau makin sedih” ucapnya. Oh ternyata dia sedang ada masalah dengan keluarganya.
Sesampainya di wisma, dia berubah lagi menjadi periang. Mungkin untuk menutupi
kesedihannya. Ya aku tau, dia sedang menghibur dirinya sendiri. Kebetulan
didalam naskah “Di Hiji Tempat nu Biasa” yang akan dipentaskan di Wisma, dia
menjadi “Sang Pengarang”. Malam itu juga dia terus menghafal naskah, agar
lancar saat pementasan. Ketika hari-H pementasan, semuanya berjalan dengan
lancar. Pementasan hari pertama selesai. Semua penonton kembali pulang
kerumahnya masing-masing. Tiba-tiba ada yang berkata “Rul, itu ada orang tua
kamu”. Wajahnya saat itu terlihat sangat kaget, sepertinya dia tidak percaya
bahwa orang tuanya datang menonton, karena ketika terakhir kali bertemu sedang
ada masalah. Disitu orang tuanya memeluknya dengan rasa bangga. Tampak
kebahagiaan di wajah mereka. Kita yang melihatnya pun tersenyum senang.
Ternyata walau bagaimana pun, orang tua selalu mendukung kita.’
0 comments:
Posting Komentar