All Crew PJC

Madya Angkatan XV

Para Pemain PJC

Drama Gandrung New York

17 Juli 2014

Posted by Lorong Teater Subang On 21:15
Aliran seni hiper-realis berikut salah satu seniman didalamnya yaitu Pedro Campos. Seni hiper-realistis adalah suatu jenis lukisan yang menyerupai foto dengan resolusi tinggi. Pedro Campos adalah salah satu seniman asal Madrid yang namanya sudah di kenal di Amerika Serikat karena karya lukisan nya yang beraliran Hiperphoto-realis.

Setiap gaya hiper-realis disini berfokus lebih banyaknya penekanan pada detail dan cara pandang objek sebenarnya. Lukisan dan patung hiper-realistis tidak hanya berpandangan ketat dari foto, mereka juga tidak sesungguhnya terinspirasi ilustrasi dari adegan atau subjek tertentu. Sebaliknya, mereka sering memanfaatkan tambahan halus, elemen piktorial untuk menciptakan ilusi realitas yang sebenar-benarnya hingga ke detail yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia sekalipun. Detail yang tidak dilihat oleh mata sekalipun tersebut maksudnya adalah ungkapan lain karena telalu detailnya suatu lukisan dari hiper-realistis.


10 Juli 2014

Posted by Lorong Teater Subang On 21:49


MOO adalah singkatan dari Masa Orientasi Organisasi. Saat itu aku dan Syahrul mengikuti MOO untuk menjadi Anggota Muda. Dan Della, Nurul, Syahdan mengikuti diklat untuk menjadi Anggota Madya. Hari Sabtu, kita menginap di GOW untuk mengikuti ujian. Materi ujiannya adalah silat, olah tubuh, tes konsentrasi, monolog, drama kelompok, menejemen pementasan. Setelah kita selesai mengikuti semua materi ujian tersebut. Kita diberi waktu untuk istirahat. Subuh sekitar jam 5, kita dibangunkan untuk ujian selanjutnya. Yaitu ujian organisasi. Ujian organisasi selesai, selanjutnya kita disuruh kembali ke bifak masing-masing, diberi waktu untuk menyiapkan sarapan dan minumannya, serta makan pagi, membersihkan kembali tempat yang dipakai untuk bifak kita sehingga kembali seperti semula, tanpa ada sampah yang tersisa ditempat itu. Harus benar-benar bersih. 

Selanjutnya kita diberitahu bawa kita akan melakukan perjalanan yang sangat panjang memakan waktu sekitar 6-7 jam. Jadi kita harus benar-benar siap berjalan jauh, bukan hanya jalan kaki, kita diberi tugas untuk melakukan pengamatan dan penggambaran. Memperatikan jalan, dan jumlah warung, toko, sekolah, masjid, jembatan, pos. Hasil pengamatan tersebut ditulis dikertas yang diberikan oleh panitia, dan kita harus menggambar kembali jalan yang sudah dilalui (seperti peta). Kita naik ke mobil, turun disuatu tempat. Saat itu matahari hampir tepat di atas kepala kita, panasnya begitu memancar dengan semangatnya. Perjalanan dimulai, kita sempat berhenti di masjid untuk sholat terlebih dahulu. Lama kelamaan, semangat ini mulai dihantui oleh pertanyaan “Mau kemana? Berapa lama? Masih jauh? Kok lewat jalan ini? Ini jalan apa?”. Keringat mulai membasahi kain yang menutupi badan ini, panas di kaki mulai terasa, pening, lelah semuanya terasa. Tapi lagi-lagi pikiran “Ah sebentar lagi kayaknya..” selalu muncul, itu yang membuat kaki ini terus melangkah, dan tubuh ini masih kuat berdiri.

Panas matahari sudah mulai tidak terlalu menyengat, sepertinya pertanda bahwa sudah sore. Stok minuman sedikit lagi. Tas kerir ini terasa semakin berat dipundak. Dan akhirnya kita sampai disuatu padang rumput yang sangat luas, udara yang terhirup sangat menyegarkan segalanya. Ya, kita sudah sampai di tujuan. Ternyata dengan pikiran yang positif ini mampu membawa kita ke tempat ini. Ditambah dengan percaya kepada diri sendiri bahwa kita pasti bisa melewatinya.





Posted by Lorong Teater Subang On 21:35


Kali ini, aku ingin menceritakan pengalaman temanku. Namanya, Syahrul.

Masih ingatkah dengan postingan proses di Wisma?

Malam itu, ketika aku menemaninya naik mobil pick up dibelakang. Dia terlihat berbeda, menjadi pendiam, matanya memancarkan sebuah kesedihan. Sangat berbeda seperti biasanya. Aku sebagai temannya, penasaran. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya. “Aku dimarahin orang tua aku. Nanti aja ceritanya. Aku gamau makin sedih” ucapnya. Oh ternyata dia sedang ada masalah dengan keluarganya. Sesampainya di wisma, dia berubah lagi menjadi periang. Mungkin untuk menutupi kesedihannya. Ya aku tau, dia sedang menghibur dirinya sendiri. Kebetulan didalam naskah “Di Hiji Tempat nu Biasa” yang akan dipentaskan di Wisma, dia menjadi “Sang Pengarang”. Malam itu juga dia terus menghafal naskah, agar lancar saat pementasan. Ketika hari-H pementasan, semuanya berjalan dengan lancar. Pementasan hari pertama selesai. Semua penonton kembali pulang kerumahnya masing-masing. Tiba-tiba ada yang berkata “Rul, itu ada orang tua kamu”. Wajahnya saat itu terlihat sangat kaget, sepertinya dia tidak percaya bahwa orang tuanya datang menonton, karena ketika terakhir kali bertemu sedang ada masalah. Disitu orang tuanya memeluknya dengan rasa bangga. Tampak kebahagiaan di wajah mereka. Kita yang melihatnya pun tersenyum senang. Ternyata walau bagaimana pun, orang tua selalu mendukung kita.’

06 Juli 2014

Posted by Lorong Teater Subang On 22:56
Jam 5 sore, waktu aku hujan-hujannan pergi ke pasar terminal buat beli bahan-bahan makanan malam ini, bersama Teh Nurul. Hari itu hari Minggu, 15 Juni 2014 tepatnya. Pulang dari pasar terminal, kita berdua pergi ke GOW lagi, dengan keadaan saat itu sedang hujan. Saat itu tidak memungkinkan jika kita berteduh, karena waktu. Kita harus mengejar waktu, semua harus dilakukan sesuai dengan jadwalnya. Sesampainya di GOW, Teh Nurul pergi ke warung Emih untuk memberikan bahan-bahan tersebut sekaligus meminta tolong untuk sekalian dimasak. Kita berdua menunggu mobil kol buntung datang, mobil itu sedang mengangkut setting, dan keperluan-keperluan lainnya dari GOW ke Wisma secara bolak-balik. Sekitar 20 menit kita menunggu dengan menggigil kedinginan, akhirnya mobil datang juga. Sisa-sisa barang yang harus diangkut, sekarang diangkut. Aku naik mobil itu, duduk disebelah a Opik, dia yang mengendarai mobil tersebut. Teh Nurul ke Wisma naik motornya. Sesampainya di Wisma, barang-barang dimasukkan ke dalam wisma, ternyata banyak partisipan yang datang dan sedang berkerja. Bukan hanya partisipan, disitu ada alumni-alumni Lorong Teater juga. Ada yang memasang karton hitam untuk menutupi jendela-jendela kaca yang transparan itu, memasang wing, lighting, menyapu, memasang karpet, menyiapan untuk bagian musik dan konsumsi, banyak sekali kegiatan yang dilakukan disitu, semuanya berkerja sesuai dengan tugasnya masing-masing.

Jam menunjukkan jam 7 malam. Ketika sedang mengerjakan tugas, handphoneku bergetar, ternyata ada SMS masuk dari Syahrul. Dia minta untuk dijemput dirumahnya karena tidak ada kendaraan. Aku perhatikan sekeliling. Mereka tidak ada yang tau rumah Arul, kondisi diluar lagi gerimis. Hanya ada satu orang yang bisa aku minta bantuan. Yaitu a Opik. Karena dia membawa mobil, dan kebetulan sedang tidak sibuk. Aku langsung minta izin ke teh Uuy buat ngejemput Syahrul, lalu minta tolong ke a Opik. Disitu a Jamal (teman a Opik) ikut juga. Sesampainya dirumah Syahrul, dia langsung keluar begitu mendengar suaraku berteriak didepan rumahnya. Syahrul naik ke belakang, aku tidak mungkin membiarkannya sendirian disitu. Jadi, aku menemani Syahrul dibelakang. Itu pengalaman pertama aku naik di belakang. Rasanya aneh, dia kok diem aja, oh mungkin ada masalah. 

Sesampainya di Wisma jam setengah 8 malam, kita berpisah. Mengerjakan tugas masing-masing lagi. Dan sekarang, semakin banyak tugas yang harus dikerjakan. Aku diberi tugas untuk ke sekolah, mengambil 4 meja kelas dan 6 kursi kelas. Ditemani oleh teman-teman partisipan lainnya, saat itu sekitar jam 8 malam. Pergi ke sekolahnya, diantar dengan a Opik, naik mobil kol buntungnya. Sesudah itu, aku diberi tugas untuk membuat parolit dan memberikannya kepada mereka semua. 

Waktu terus berputar, partisipan sedikit demi sedikit pulang ke rumahnya masing-masing. Tetapi para penari menginap untuk malam ini. Tugas-tugas terus dikerjakan dalam kesunyian. Semua dilakukan, fokus harus tetap terjaga. Aku diberi tugas untuk menyambungkan 2 kain hitam dengan cara dijahit. Lagi-lagi ini pengalaman pertamaku dalam hal menjahit. Waktu sudah menunjukkan jam 1 malam pada saat itu. Tetapi pekerjaan panggung belum sepenuhnya selesai. Kain hitam ini sudah terjahit, sekarang tinggal dipasangkan ke atas. 

Tidak terasa sudah jam 3 subuh. A Franx pulang, karena masih ada urusan lain yang harus dikerjakan. Disusul dengan teh Uuy ketika subuhnya. Pekerjaan masih terus dilakukan, abaikan semua rasa capek, kumpulkan kembali semua fokus. Tugas ini harus diselesaikan secepat mungkin. Hingga akhirnya aku tertidur, ketika adzan subuh selesai berkumandang. 

Aku terbangun di pagi menjelang siang, dibangunkan oleh teh Della yang tadi malam tidak ikut menginap. Aku, teh Nurul, Syahrul, dan teh Della siap-siap untuk berangkat ke sekolah. Karena sedang waktunya perbaikkan nilai (remedial). Selesai urusan sekolah, kembali lagi ke Wisma, kembali lagi kepada tugas-tugas yang ada. Hingga akhirnya, saatnya pementasan dimulai. Inilah hari pertama dengan segudang pengalaman baru yang memberikan pelajaran penting untukku, dan semoga bermanfaat juga untuk mereka yang mengikutinya.




03 Juli 2014

Posted by Lorong Teater Subang On 20:42
Ok. Semua sudah diposisinya masing-masing. Nasi dan kawan-kawannya sudah dihidangkan diatas kertas nasi. Sekitar jam 3 sore,  ketika  pementasan sudah selesai. Kita semua ke atas untuk mengisi perut terlebih dahulu, niatnya. Terlihat dari ekspresi masing-masing orang, sangat senang karena akhirnya waktu makan datang juga, setelah dari malam belum makan karena disibukkan dengan persiapan ini itu, dan mungkin sudah merasa lelah sehingga memilih untuk istirahat saja.
Masih menunggu sebagian yang belum datang, di kanan dan kiri terlihat masih banyak kesibukkan yang dilakukan. Dan di panggung sebenarnya belum dibersihkan. Akhirnya mereka yang ditunggu datang juga, kita semua duduk diposis masing-masing. Sudah baca doa. Tangan ini baru saja menyentuh nasi dengan kawan-kawannya itu. Tak lama kemudian datang seseorang, dan berbicara “Kepada seluruh CA dan Anggota Lorong Teater sekarang kebawah dulu, masih ada tugas yang harus dituntaskan” .
Oh panggilan tugas. Terpaksa makanan ini harus ditinggalkan. Maafkan aku nasi yang baru bisa menyentuhmu, belum sampai memakanmu.  Kita yang merasa dipanggil tadi, turun kebawah. Mengangkut setting-setting itu keluar, dimasukkan kembali ke dalam mobil yang mengangkutnya. Begitupun dengan kostum, make up, lighting, properti serta handproof, perkakas, dll. Dimasukkan kembali kedalam kardus/kotaknya lalu disimpan di mobil yang akan mengangkutnya. Setelah tugas-tugas itu selesai kita kembali ke atas untuk makan. Kali ini beneran makan looh :D
Mungkin akan bingung, mengapa kita bela-belain meninggalkan makan yang memang kondisinya kita kelaparan demi tugas? Karena buat kami, tugas adalah tugas. Oleh karena itu, begitu ada panggilan tugas, siap tidak siap kita harus siap. Siap itu tidak ada kata tapi. Siap itu siap.