20 Desember 2012

Posted by Asma Oetari On 13:41
Oleh : Hilmi Ansyori Fasya (L-80)

1. Pengetahuan Tata Pentas

Tata pentas dalam pengertian luas adalah suasana seputar gerak laku di atas pentas dan semua elemen-elemen visual atau yang terlihat oleh mata yang mengitari pemeran dalam pementasan. Tata pentas dalam pengertian teknik terbatas yaitu benda yang membentuk suatu latar belakang fisik dan memberi batas lingkungan gerak laku. Dengan mengacu pada definisi di atas dapat ditarik suatu pengertian bahwa tata pentas adalah semua latar belakang dan benda-benda yang ada dipanggung guna menunjang seorang pemeran memainkan lakon.

Panggung menurut Purwadarminta ialah lantai yang bertiang atau rumah yang tinggi atau lantai yang berbeda ketinggiannya untuk bermain sandiwara, balkon atau podium. Dalam seni pertunjukan panggung dikenal dengan istilah Stage melingkupi pengertian seluruh panggung. Jika panggung merupakan tempat yang tinggi agar karya seni yang diperagakan diatasnya dapat terlihat oleh penonton, maka pentas juga merupakan suatu ketinggian yang dapat membentuk dekorasi, ruang tamu, kamar belajar, rumah adat dan sebagainya

2. Macam-Macam Panggung

Secara fisik bentuk panggung dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu panggung tertutup, panggung terbuka dan panggung kereta. panggung tertutup terdiri dari panggung prosenium, panggung portable dan juga dapat berupa arena. Sedangkan panggung terbuka atau lebih dikenal dengan sebutan open air stage dan bentuknya juga bermacam-macam.

a. Panggung Prosenium atau Panggung Pigura

Panggung prosenium merupakan panggung konvensional yang memiliki ruang prosenium atau suatu bingkai gambar melalui mana penonton menyaksikan pertunjukan. Hubungan antara panggung dan auditorium dipisahkan atau dibatasi oleh dinding atau lubang prosenium. Sedangkan sisi atau tepi lubang prosenium bisa berupa garis lengkung atau garis lurus yang dapat disebut dengan pelengkung prosenium (Proscenium Arch).

Gambar 1. Denah panggung Prosenium
Panggung prosenium dibuat untuk membatasi daerah pemeranan dengan penonton. Arah dari panggung ini hanya satu jurusan yaitu kearah penonton saja, agar pandangan penonton lebih terpusat kearah pertunjukan. Para pemeran diatas panggung juga agar lebih jelas dan memusatkan perhatian penonton. Dalam kesadaran itulah maka keadaan pentas prosenium harus dapat memenuhi fungsi melayani pertunjukan dengan sebaik-baiknya. Dengan kesadaran bahwa penonton yang datang hanya bermaksud untuk menonton pertunjukan, oleh karena itu harus dihindarikan sejauh mungkin apa yang nampak dalam pentas prosenium yang sifatnya bukan pertunjukan. Maka dipasanglah layar-layar (curtain) dan sebeng-sebeng (Side wing). Maksudnya agar segala persiapan pertunjukan dibelakang pentas yang sifatnya bukan pertunjukan tidak dilihat oleh penonton. Pentas prosenium tidak seakrab pentas arena, karena memang ada kesengajaan atau kesadaran membuat pertunjukan dengan ukuran-ukuran tertentu. Ukuran-ukuran atau nilai-nilai tertentu dari pertunjukan itu kemudian menjadi konvensi. Maka dari itu pertunjukan yang melakukan konvensi demikian disebut dengan pertunjukan konvensional.\

b. Panggung Portable


Gambar 2. Panggung portable
Panggung portable yaitu panggung tanpa layar muka dan dapat dibuat di dalam maupun di luar gedung dengan mempergunakan panggung (podium, platform) yang dipasang dengan kokoh di atas kuda-kuda. Sebagai tempat penonton biasanya mempergunakan kursi lipat. Adegan-adegan dapat diakhiri dengan mematikan lampu (black out) sebagai pengganti layar depan. Dengan kata lain bahwa panggung portable yaitu panggung yang dibuat secara tidak permanen.

c. Panggung Arena

Panggung arena merupakan bentuk panggung yang paling sederhana dibandingkan dengan bentuk-bentuk pangung yang lainnya. Panggung ini dapat dibuat di dalam maupun di luar gedung asal dapat dipergunakan secara memadai. Kursi-kursi penonton diatur sedemikian rupa sehingga tempat panggung berada di tengah dan antara deretan kursi ada lorong untuk masuk dan keluar pemain atau penari menurut kebutuhan pertunjukan tersebut. Papan penyangga (peninggi) ditempatkan di belakang masing-masing deret kursi, sehingga kursi deretan belakang dapat melihat dengan baik tanpa terhalang penonton dimukanya. Sebagai penganti layar pada akhir pertunjukan atau pergantian babak dapat digunakan dengan cara mematikan lampu (black out). Perlengkapan tata lampu dapat dibuatkan tiang-tiang tersendiri dan penempatannya harus tidak mengganggu pandangan penonton. Berbagai ragam bentuk panggung arena adalah sebagai berikut :



Gambar 3. Denah panggung arena tapal kuda
c.1. Panggung arena tapal kuda adalah panggung dimana separuh bagian pentas atau panggung masuk kebagian penonton sehingga membentuk lingkaran tapal kuda.









Gambar 4. Denah panggung arena bentuk U
c.2. Panggung arena ¾, berarti ¾ dari panggung masuk kearah penonton atau dengan kata lain penonton dapat menyaksikan pementasan dari tiga sisi atau arah penjuru panggung. Panggung arena ¾ biasanya berupa pentas arena bentuk U.






c.3. Panggung arena penuh yaitu dimana penonton dapat menyaksikan pertunjukan dari segala sudut atau arah dan arena permainan berada di tengah-tengah penonton. Panggung arena penuh biasanya panggung arena bujur sangkar atau panggung arena bentuk lingkaran.

Gambar 5. Denah panggung arena bujur sangkar
Gambar 6. Denah panggung arena bentuk lingkaran













d. Panggung Terbuka
Gambar 7. Denah panggung terbuka
Panggung terbuka sebetulnya lahir dan dibuat di daerah atau tempat terbuka. Berbagai variasi dapat digunakan untuk memproduksi pertunjukan di tempat terbuka. Pentas dapat dibuat di beranda rumah, teras sebuah gedung dengan penonton berada di halaman, atau dapat diadakan disebuah tempat yang landai dimana penonton berada di bagian bawah tempat tersebut. Panggung terbuka permanen (open air stage) yang cukup popular di Indonesia antara lain adalah panggung terbuka di Candi Prambanan.





e. Panggung Kereta
Panggung kereta disebut juga dengan panggung keliling dan digunakan untuk mempertunjukkan karya-karya teater dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan panggung yang dibuat di atas kereta. Perkembangan sekarang panggung tidak dibuat di atas kereta tetapi dibuat diatas mobil trailer yang diperlengkapi menurut kebutuhan dan perlengkapan tata cahaya yang sesuai dengan kebutuhan pentas. Jadi kelompok kesenian dapat mementaskan karyanya dari satu tempat ke tempat lain tanpa harus memikirkan gedung pertunjukan tetapi hanya mencari tanah yang agak lapang untuk memarkir kereta dan penonton bebas untuk menonton.

3. Pokok-pokok Persyaratan Set Panggung/Pentas

Set panggung atau pentas (scenery) yaitu penampilan visual lingkungan sekitar gerak laku pemeran dalam sebuah lakon. Untuk itu dalam merancang pentas harus memperhatikan aspek-aspek tempat gerak-laku, memperkuat gerak-laku dan mendandani atau memperindah gerak-laku. Oleh sebab itu, tugas seorang perancang pentas hendaklah merencanakan set-nya sedemikian rupa sehingga : 
  1. Dapat memberi ruang kepada gerak-laku.
  2. Dapat memberi pernyataan suasana lakon. 
  3. Dapat memberi pandangan yang menarik. 
  4. Dapat dilihat dan dimengerti oleh penonton.
  5. Merupakan rancangan yang sederhana 
  6. Dapat bermanfaat terus menerus bagi pemeran atau pelaku.
  7. Dapat secara efisien dibuat, disusun dan dibawa.
  8. Dapat membuat rancangan yang menunjukkan bahwa setiap elemen yang terdapat didalam penampilan visual pentasnya memiliki hubungan satu sama lain.

Oleh karena itu, secara singkat seorang perancang pentas yang membuat set harus memiliki tujuan yaitu: lokatif, ekspresif, atraktif, jelas, sederhana, bermanfaat, praktis dan organis.
  1. Lokatif yaitu penataan pentas itu harus dapat memberi tempat kepada gerak laku pemeran atau pelaku pertunjukan.
  2. Ekspresif yaitu penataan pentas harus dapat memperkuat gerak-laku dengan memberi penjelasan, menggambarkan keadaan sekitar dan menciptakan suasana bagi gerak-laku tersebut.
  3. Atraktif yaitu penataan pentas itu harus dapat memberi pandangan yang menarik bagi penonton.
  4. Jelas yaitu penataan pentas itu harus merupakan rancangan yang dapat dilihat dan dimengerti oleh penonton dari suatu jarak tertentu.
  5. Sederhana yaitu penataan pentas itu harus sederhana. Sederhana tidak berarti bahwa pentas hanya terdiri dari satu meja dan dua kursi, tetapi penataannya tidak ruwet dan penonton dapat melihat dan menarik maknanya tanpa memeras pikiran dan perasaan.
  6. Bermanfaat yaitu penataan pentas harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat bermanfaat bagi para pemeran dengan efektif dan seefisien mungkin.
  7. Praktis yaitu penataan pentas itu harus dapat secara efisien dibuat, disusun dan dibawa serta dapat memenuhi kebutuhan teknis pembuatan tata pentas atau scenery.
  8. Organis yaitu penataan pentas itu harus dapat menunjukkan setiap elemen yang terdapat didalam penampilan visual penataannya dan memiliki hubungan satu sama lainnya.

4. Bagian-bagian Panggung

Panggung teater modern memiliki bagian-bagian atau ruangruang yang secara mendasar dibagi menjadi tiga, yaitu bagian panggung, auditorium (tempat penonton), dan ruang depan. Bagian yang paling kompleks dan memiliki fungsi artistik pendukung pertunjukan adalah bagian panggung. Masing-masing memiliki fungsinya sendiri. Seorang penata panggung harus mengenal bagian-bagian panggung secaramendetil.

Gb.278 Bagiang panggung 1
A=Border.
Pembatas yang terbuat dari kain. Dapat dinaikkan dan diturunkan. Fungsinya untuk memberikan batasan area permaianan yang digunakan.

B=Backdrop.
Layar paling belakang. Kain yang dapat digulung atau diturun-naikkan dan membentuk latar belakang panggung.

C=Batten.
Disebut juga kakuan. Perlengkapan panggung yang dapat digunakan untuk meletakkan atau menggantung benda dan dapat dipindahkan secara fleksibel.

D=Penutup/flies.
Bagian atas rumah panggung yang dapat digunakan untuk menggantung set dekor serta menangani peralatan tata cahaya.

E=Rumah panggung (stage house). 
Seluruh ruang panggung yang meliputi latar dan area untuk tampil

F=Catwalk (jalan sempit). 
Permukaan, papan atau jembatan yang dibuat di atas panggung yang dapat menghubungkan sisi satu ke sisi lain sehingga memudahkan pekerja dalam memasang dan menata peralatan.

G=Tirai besi. 
Satu tirai khsusus yang dibuat dari logam untuk memisahkan bagian panggung dan kursi penonton. Digunakan bila terjadi kebakaran di atas panggung. Tirai ini diturunkan sehingga api tidak menjalar keluar dan penonton bisa segera dievakuasi.

H=Latar panggung atas.
Bagian latar paling belakang yang biasanya digunakan untuk memperluas area pementasan dengan meletakkan gambar perspektif.

I=Sayap (side wing).
Bagian kanan dan kiri panggung yang tersembunyi dari penonton, biasanya digunakan para aktor menunggu giliran sesaat sebelum tampil.

J=Layar panggung.
Tirai kain yang memisahkan panggung dan ruang penonton. Digunakan (dibuka) untuk menandai dimulainya pertunjukan. Ditutup untuk mengakhiri pertunjukan. Digunakan juga dalam waktu jeda penataan set dekor antara babak satu dengan lainnya.

K=Trap jungkit.
Area permainan atau panggung yang biasanya bisa dibuka dan ditutup untuk keluar-masuk pemain dari bawah panggung.

L=Tangga.
Digunakan untuk naik ke bagian atas panggung secara cepat. Tangga lain, biasanya diletakkan di belakang atau samping panggung sebelah luar.

M=Apron.
Daerah yang terletak di depan layar atau persis di depan bingkai proscenium.

N=Bawah panggung.
Digunakan untuk menyimpan peralatan set. Terkadang di bagian bawah ini juga terdapat kamar ganti pemain.

O=Panggung.
Tempat pertunjukan dilangsungkan.

P=Orchestra Pit.
Tempat para musisi orkestra bermain. Dalam beberapa panggung proscenium, orchestra pit tidak disediakan.

Gb.279 Bagian panggung2
Q=FOH (Front Of House) Bar.
Baris lampu yang dipasang di ataspenonton. Digunakan untuk lampu spot.

R=Langit-langit akustik.
Terbuat dari bahan yang dapat memproyeksikan suara dan tidak menghasilkan gema.

S=Ruang pengendali.
Ruang untuk mengendalikan cahaya dan suara (sound system). 

T=Bar.
Tempat menjual makan dan minum untuk penonton selama menunggu pertunjukan dimulai. 

U=Foyer.
Ruang tunggu penonton sebelum pertunjukan dimulai atau saat istirahat. 

V=Tangga.
Digunakan untuk naik dan turun dari ruang lantai satu ke ruang lantai lain. 

W=Auditorium (house).
Ruang tempat duduk penonton di panggung proscenium. Istilah auditorium sering juga digunakan sebagai pengganti panggung proscenium itu sendiri. 

X=Ruang ganti pemain. Ruang ini bisa juga terletak di bagian bawah belakang panggung.

Sumber :
http://teaterku.wordpress.com/2010/03/24/tata-panggung/
http://ceritangin.files.wordpresscom/2009/02/05_tata_artistik.pdf

18 Desember 2012

Posted by Unknown On 08:49
Oleh : Ratna Fatmalasari (L-82)

Selain menjadi salah satu cabang seni, keteateran pun mengandung unsur organisasi yang kompleks.. bagaimana bisa ? simak artikel berikut ini .. ^^

TEATER Sebagai ORGANISASI

Proses Teater merupakan sebuah proses organisasi, yang artinya segala macam orang dengan segala macam fungsinya tergabung dalam suatu koordinasi yang rapih,dan juga mencakup juga pengertian sampai batas-batas yang sentimentil, layaknya Keberhasilan suatu pertunjukan Teater dapat juga dijadikan sebagai keberhasilan suatu seni organisasi, baik organisasi penyelenggaraannya (Tim Produksi) maupun segi seni-seninya yang berkaitan di dalamnya (Tim artistik).

Berikut ini Elemen dari sebuah Group Teater dalam mengadakan sebuah Produksi.

Tim Produksi
- Pimpinan Produksi
- Sekretaris Produksi
- Keungan Produksi / Bendahara
- Urusan Dokumentasi
- Urusan Publikasi
- Urusan Pendanaan
- Urusan Ticketing atau karcis
- Urusan Kesejahteraan
- Urusan Perlengkapan


Tim Artistik
- Sutradara
- Art Director / Pimpinan Artistik
- Stage Manager
- Property Master
- Penata Cahaya
- Penata Kostum
- Penata setting
- Perias / Make Uper
- Penata Musik

Tentunya dalam setiap elemen memiliki tugas sendiri-sendiri dan sudah seharusnya untuk bertanggungjawab penuh atas tugas itu (secara profesional). Sebagai Contoh seorang Urusan Pendanaan, ia harus memikirkan seberapa besar dana yang dibuhtuhkan? Dari mana dana itu didapatkan.

Jika kita memandang Elemen dalam Group Teater, ternyata ada kesamaan dengan elemen dalam tubuh kita sendiri, karena setiap organ tubuh memiliki fungsi sendiri, tetapi saling berhubungan dan tergabung dalam fungsi yang sempurna. Teater ibarat laboratorium kehidupan itu sendiri, serta seperti yang diungkapkan Peter Brook “Teater akan menjadi tempat yang indah bagi orang-orang yang mabuk dan kesepian, Teater merupakan sebuah tindak budaya, Teater bukanlah tempat untuk melarikan diri ataupun untuk mencari perlindungan”.

Daftar Pustaka:
Hamzah Adjib A., Pengantar Bermain Drama, CV Rosda, Bandung.
Noer C. Arifin, Teater Tanpa Masa Silam, DKJ, Jakarta, 2005.
Iman Sholeh & Rik Rik El Saptaria, Module Workshop Keaktoran Festamasio 3, TGM, Yogyakarta, 2005.
www.jawapalace.org
Dipublikasikan oleh: materiteater.blogspot.com

17 Desember 2012

Posted by Unknown On 20:23
Oleh : Nurul Faritha

Sudah merupakan hal yang lumrah, apabila kaum muda saat ini lebih memilih hobi menulis puisi yang bertemakan romance ataupun sosial, karena saat ini puisi bertemakan hal tersebut sedang menjadi trend bagi para kaum muda yang sedang beranjak ke tahap dewasa. Maka dari itu, puisi atau syair bertemakan romance atau sosial akhir-akhir ini sering kita temukan di mana-mana. Penyair-penyair baru pun yang awalnya tidak kita ketahui, saat ini mulai bermunculan. Namun, sebelum kita membahas lebih jauh tentang puisi, tahukah anda apa itu puisi? Lalu apa yang disebut penyair itu? 


Puisi yaitu karya seni berupa tulisan yang didalamnya terdapat curahan perasaan si-penyair. Lalu, seorang Penyair adalah orang yang meciptakan puisi. Tanpa penyair, puisi tak akan ada. Dan semakin banyak penyair baru yang bermunculan, maka semakin mudah pula kita menemukan puisi-puisi di internet ataupun ditempat lainnya. Puisi tidak hanya dibaca secara langsung saja, puisi juga bisa di gunakan untuk pelengkap seni lainnya. Salah satunya penggunaan puisi dalam teater. Puisi ini berfungsi untuk menjadi pelengkap untuk sebuah pementasan teater. Contohnya untuk dijadikan musikalisasi puisi dalam pementasan teater. Dengan begitu, sebuah teater yang dimainkan akan menjadi semakin menarik untuk ditonton, juga dengan kita menggunaan puisi dalam teater akan lebih membuat hidup teater yang kita mainkan, juga penonton akan semakin ikut berpetualang dengan apa yang menjadi tontonannya dalam teater.

Referensi:
id.wikipedia.org/wiki/puisi
http://article.wn.com/view/2012/09/18/Fergie_Aku_punya_banyak_ide_untuk_album_solo/

Posted by Unknown On 20:04
Oleh : Yuniawati (L-81)

Tata cahaya merupakan salah satu unsur pendukung dalam sebuah pementasan utuh. Tata cahaya dalam sebuah pementasan sangat penting selama pementasan berlangsung. Fungsi tata cahaya tidak hanya sekedar untuk menerangi panggung pementasan saja, melainkan berfungsi juga sebagai pembangun atmosfer panggung saat pementasan berlangsung yang disebut dengan pencahayaan, yaitu tata cahaya sebagai unsur artistik pementasan. Seorang penata cahaya harus memahami naskah yang akan dibawakan. Berbeda dengan aktor yang memahami tokoh peran, penata cahaya mempelajari seluruh pemeranan untuk menangkap maksud pemeranan tersebut serta mempelajari detil latar waktu, dan tempat kejadian peristiwa. Mempelajari tempat kejadian peristiwa akan memberikan gambaran pada penata cahaya mengenai tempat cerita tersebut berlangsung dan suasana dalam cerita tersebut. Setiap sumber cahaya menghasilkan warna dan efek cahaya yang berbeda yang pada akhirnya akan memberikan gambaran suasana. Berikut contoh tata letak lampu.


Unsur-unsur dalam tata cahaya
Dalam tata cahaya ada beberapa unsur penting yang harus diperhatikan, antara lain :
  1. Tersedianya peralatan dan perlengkapan. Yaitu tersedianya cukup lampu sorot, kabel, dudukan lampu dan beberapa peralatan yang berhubungan dengan lighting dan listrik. Tidak ada standard yang pasti seberapa banyak perlengkapan tersebut, semuanya bergantung dari kebutuhan naskah yang akan dipentaskan.
  2. Tata letak dan titik fokus. Tata letak adalah penempatan lampu sedangkan titik fokus adalah daerah jatuhnya cahaya. Pada umumnya, penempatan lampu dalam pementasan adalah di atas dan dari arah depan panggung, sehingga titik fokus tepat berada di daerah panggung. Dalam teorinya, sudut penempatan dan titk fokus yang paling efektif adalah 450 di atas panggung. Namun semuanya itu sekali lagi bergantung dari kebutuhan naskah. Teori lain mengatakan idealnya, lighting dalam sebuah pementasan (apapun jenis pementasan itu) tata cahaya harus menerangi setiap bagian dari panggung, yaitu dari arah depan dan belakang, atas dan bawah, kiri dan kanan, serta bagian tengah. Sehingga bayangan pemain di tengah panggung hampir tidak terlihat
  3. Keseimbangan warna. Maksudnya adalah keserasian penggunaan warna cahaya yang digunakan.
  4. Penguasaan alat dan perlengkapan. Artinya penata cahaya harus memiliki pemahaman mengenai sifat perlengkapan tata cahaya. Tata cahaya sangat berhubungan dengan listrik, maka anda harus berhati-hati jika sedang bertugas menjadi penata cahaya.

Dalam sebuah pementasan, semua orang yang terlibat dala pementasan memiliki peran yang penting. Jika salah satu unsur tidak ada, maka akan mengganggu jalannya pementasan secara keseluruhan. Begitu pula dengan penata cahaya, dia juga menjadi bagian penting dalam sebuah pementasan selain sutradara dan aktor, disamping make uper, penata panggung, penata musik, penata kostum, dan unsur lainnya. Dengan kata lain, seorang penata cahaya harus mengikuti proses dari awal hingga pementasan berakhir.

Referensi:
http://materiteater.blogspot.com/2010/12/praktek-tata-cahaya.html
http://sdnblimbing3mlg.wordpress.com/2008/05/12/lighting-tata-cahaya-pementasan/


Posted by Unknown On 19:54
Oleh : Titan Sulistia (L-79)

“Drama” menurut Herman J Waluyo kata ini berasal dari bahasa Yunani yaitu dramoai yang berarti berbuat, berlaku, beraksi, bertindak dan sebagainya. Dalam drama sering terdengar nama “Drama Turgi” , drama turgi adalah ajaran tentang masalah hukum, dan konvensi/ persetujuan drama. Sedangkan “Teater” merupakan kisah kehidupan manusia yang disusun untuk ditampilkan sebagai pertunjukkan di atas pentas oleh para pelaku dengan dan ditonton oleh publik (penonton). Dalam teater banyak unsur-unsur yang mendukung terciptanya sebuah pementasan yang utuh. Salah satunya adalah MUSIK.

Pertunjukan teater baik tradisional maupun modern akan menggunakan spectakle-spectskle musik. Musik dalam seni pertunjukan teater pada umumnya menjadi bagian kedua atau hanya berfungsi sebagai elemen pendukung. Musik tidak hanya digunakan sebagai ilustrasi tetapi juga sebagai pembangun suasana, sebagai pengiring gerak (tari), yang berjalan beriringan, saling mengisi dan saling menguatkan.

Musik diaransemen sebagai bunyi-bunyian yang melekat dengan karakter tokoh yang akan hadir dalam pertunjukan. Bunyi dalam teater dikategorikan menjadi bunyi alami, atau bunyi-bunyi alam, bunyi perangkat atau alat mesin, seperti mobil, mesin pabrik dsb., dan bunyi yang dikarenakan adanya aksi tertentu seperti bunyi meja ditendang, batu dilempar dsb. (Nur Sahid: 2004). Bunyi-bunyi tersebut diolah dengan menggunakan alat-alat musik untuk menghasilkan efek suara yang mendukung lakuan aktor dan spectakle pemanggungan. Musik dalam pertunjukan teater juga dipahami sebagai lagu dan atau tembang. Musik dalam hal ini mengacu pada fungsi praktisnya, menunjuk secara spesifik pada situasi sosial masyarakat pendukungnya. Disamping itu musik juga sebagai penanda peristiwa yang akan menjadi konteks pertunjukan teater. Musik dalam pertunjukan teater dimainkan secara live (hidup-langsung) sebagai bagian kesatuan pertunjukan.

Adapun musik dalam teater terdiri dari :

  1. Musik pembuka
  2. Musik pengiring
  3. Musik suasana
  4. Musik penutup
1. Pengertian musik pembuka
Merupakan musik di awal pertunjukan teater.
Fungsinya:
Untuk merangsang imajinasi para penonton dalam memberikan sedikit gambaran mengenai pertunjukan teater yang akan di sajikan, atau bisa juga untuk pengkondisian penonton.

2. Pengertian musik pengiring
Merupakan musik yang digunakan unruk mengiringi pertunjukan di beberapa adegan pertunjukan teater atau perpindahan adegan/ setting.
Fungsinya:
Untuk memberikan sentuhan indah dan manis agar ritme permainan seimbang dengan porsi permainan per adegan( tidak semua adengan di beri musik hanya poin-poin adengan tertentu yang dirasa perlu karena dapat merusak keseimbangan pertunjukan),seperti susana , lampu , setting , kostum, mimik ekspresi, serta property.

3. Pengertian musik suasana
Musik yang menghidupkan irama permainana serta suasana dalam pertunjukan teater baik senang maupun gembira, sedih, tragis.
Fungsinya:
Untuk memberikan ruh permainan yang menarik, indah, dan terlihat jelas antara klimaks dan anti klimaksnya.

4. pengertian musik penutup
Musik terakir dalam dalam pementasan teater
Fungsinya:
Untuk memeberikan kesan dan kesan dari pertunjukan teater yang disajikan baik yang bersifat baik , buruk, gembira, sedih, sebagai pelajaran dan cermin moral penikmat seni teater.

Sarat arranger musik / pemusik teater:

  1. Minimal menguasai 1 atau 2 alat musik
  2. Memiliki wawasan luas mengenai musik
  3. Menguasai bebarapa aliran musik
  4. Rajin dan tekun mendengarkan referensi musik
  5. Terus mencoba melakukan experimen musik baik dalam bentuk intrumen, lagu ataupun kolaborasi.
  6. Mengusai teknis dalam penggunaan alat musik yang berhubungan langsung dengan sound sistem.
Tahapan pemusik teater dalam proses teater:
  1. Mempelajari naskah yang akan disajikan kemudian setelah mengetahui plot dan alur ceritanya kemudian membuat arasemen musik / lagu ( di usahakan tidak hanya satu karya,karna untuk cadangan).
  2. Konsultasi dan berkomunikasi dengan sutradara jangan sampai terputus serta intensitas dijaga dengan sutradara.
  3. Presentasi musik pembuka,pengiring, suasana, dan penutup dengan sutradara sesuai dengan keinginan sutradara.
  4. Inten mengikuti latihan dengan tujuan agar dapat meraba irama permainan yang akan menghasilkan nada dan ide di adengan tertentu dengan ritme permainan yang seimbang dan penekanan nada yang kuat sesuai porsi adegan.
  5. Komonikasi antar aktor/aktris dan semua yang terlibat didalam pementasan, supaya nada yang di tuangkan d permainan sesuai dengan rasa penokohan yang di lakoninya.
  6. Melakukan latih gabungan agar tercipta keseimbangan rasa antar semua crew baik tim setting ,tim lighting, aktor/aktris dan tim musik jadi kesatuan panggung. Tata sound dalam pementasan teater Penempatan tata sound dalam pertunjukkan teater sangat penting karena faktor pendukung yang memberikan efek bunyi dan suara. Pengaturan sound yang tepat dan seimbang sesuai dengan besar kecilnya ruangan akan mempengaruhi kenyamanan audien untuk menikmati pertunjukan dan dukungan kualitas sound yang standart ( di atas rata-rata baik in-door maupun out-door).

Referensi :
http://55tbo.blogspot.com/2012/03/pengertian-drama-seni-pertunjukan.html#ixzz2EYiTRn1O
http://pamangsah.blogspot.com/2008/11/musik-dalam-teater.html
http://malaysia.panduanwisata.com/files/2012/05/musik-dan-teater3.jpgv
http://gdb.voanews.eu/4F50BBC6-86F2-4926-9A5A-8D5BABCEF3DC_w640_r1_s.jpg