29 Juni 2014

Posted by Lorong Teater Subang On 22:55
 Kehancuran

Suara dari semak-semak dan bahagia di dalam dada
Di bumi.. di matahari..
Di langit.. di hutan..
Di laut.. di semua..
Ketika cahaya memudar
Aduh hay..
Curang dalam topan yang menukik ke bawah
Kini hijau melintas kebola jemara tempat tian
Ya paling suci dan mempesona yang pernah ada
Kini semua hancur dalam samudra tanpa kehidupan
Langit menghitam
Dunia hancur
Penuh dengan kekejaman mereka
Kehilangan anak
Kehilangan saudara
Dia kehilangan bapak
Sampai kapan saudaraku bumi kita menggigil kedinginan?
Posted by Lorong Teater Subang On 21:04
Kalau ini adalah foto awal proses “Hak Peto”. Hanya berbeda seminggu dari pementasan naskah “Di Hiji Tempat nu Biasa”. Dengan memanfaatkan bahan-bahan yang sudah terpakai, kita memulai semuanya dari 0 lagi. Mulai dari mencari pemainnya, merancang setting dan membuatnya. Hanya bermodalkan niat. Kita memakai kaso,kayu dari bekas setting naskah DHTB. Kita mencabuti paku-paku yang sudah terpasang,memakainya kembali untuk membuat setting “Hak Peto”.

Sedangkan kita belum tau siapa saja yang akan bermain di naskah itu, yang penting setting jadi terlebih dahulu. Dengan memanfaatkan Sumber Daya Manusia yang seadanya, kita garap semuanya. H-1, setting belum jadi sepenuhnya, kita masih kekurangan beberapa pemain, musik belum ada. 

Malam itu juga kita selesaikan satu per-satu. Pemain lengkap, para pemain diberikan arahan tentang blockingnya. Hingga akhirnya sudah waktunya mereka berangkat ke Gedung Rumentang Siang untuk memulai pementasan. Inilah hasil dari jerih payah mereka. Yang  berevolusi yang bertahan hidup. 

24 Juni 2014

Posted by Lorong Teater Subang On 20:26
Apasih hal yang penting dalam pemerenan?


Apa hayooo? Yang paling penting adalah konsentrasi!
Mari baca pembahasan berikut, mengapa konsentrasi menjadi hal yang penting untuk pemeranan^^

Pengertian konsentrasi secara harfiah adalah pemusatan pikiran atau perhatian.
Lalu kosentrasi dalam bermain drama untuk apa? Jawabannya adalah untuk fokus terhadap peran.
Pusat perhatian seorang aktor adalah tokoh yang akan dimainkannya. Jadi, segala sesuatu yang mengalihkan perhatian seorang aktor, cenderung dapat merusak proses pemeranan. Maka, konsentrasi menjadi sesuatu hal yang penting untuk pemeran.
Tujuan dari konsentrasi ini adalah untuk mencapai kondisi kontrol mental maupun fisik di atas panggung. Ada hubungan yang sangat dekat antara pikiran dan tubuh. Seorang aktor harus dapat mengontrol tubuhnya setiap saat. Dengan konsentrasi yang baik, aktor akan dapat mengubah dirinya menjadi orang lain, yaitu tokoh yang dimainkannya.
Dunia teater adalah dunia rekaan atau bisa disebut fiksi. Dengan kekuatan konsentrasi yang baik, para aktor bisa mewujudkan dunia fiksi itu seolah-olah menjadi nyata. Jadi, pada saat aktor akan membawakan suatu peran misalnya sebagai seorang nenek, baik itu dalam latihan atau pementasan, konsentrasikan pikiran kita pada hal tersebut. Jangan sekali-kali memikirkan yang lain.
Ketika aktor tersebut benar-benar memfokuskan pikirannya, itu akan membuat orang lain tertarik kepada pemeranan aktor tesebut.

Jadi buat yang ingin menjadi aktor, harus bisa konsentrasi dan tetap fokus terhadap perannya yaa:D

“The actor is an athlete of the heart.”

 

22 Juni 2014

Posted by Lorong Teater Subang On 23:14
Ayoo tebak ini lagi pada ngapain dan diapain?
Ngerjain ulangan? Berjemur? Baca-baca? Salah!
Itu waktu kita lagi proses FDBS kemaren. Jadi begini kisahnya, selesai olah tubuh di pagi hari yang membuat keringat kita menetes dengan deras. Kita semua disuruh duduk dilapangan, lalu masing-masing dari kita dikasih satu lembar kertas. Pertama kita emang bingung apa yang akan dilakukan dengan selembar kertas itu. Perintah selanjutnya adalah kita disuruh menulis daftar nama yang mengikuti proses. Selanjutnya kita disuruh mencoret nama yang di anggap sebagai "hama". Lagi-lagi ini adalah perintah yang sangat susah, diumpamakan jika ada kapal yang oleng, tentu kita harus membuang orang yg dianggap akan semakin membuat kapal itu oleng. Yang susahnya itu karena ada perasaan "tidak tega", walaupun memang orang-orang itu yang akan menyebabkan kapal akan semakin rusak. Disini ternyata memang harus bisa membedakan mana teman ketika didalam organisasi, dan mana teman untuk diluar itu. Memang susah, tapi harus tetap dilakukan.
"Kapten! Kapal oleng!"

05 Mei 2014

Posted by Lorong Teater Subang On 11:19